Jumat, 16 Maret 2012

Mengapa Memilih Menjadi Umat Buddha?

Mengapa Memilih Menjadi Umat Buddha?
Oleh: Bhikkhu Khemanando

Natthi me saranam annam
Buddho/Dhammo/Sangho me saranam varam
Etena saccavajjena
Sotthi te hotu sabbada


Tiada pelindungan lain bagiku 
Buddha/ Dhamma/Sanghalah pelindungku
Berkat kesungguhan pernyataan ini
 Semoga kita selamat dan bahagia



Pendahuluan
Ketika kita mengenal Buddhisme, lalu dengan dorongan batin kita sendiri, kita belajar dengan sendiri melalui pikiran kita yang alami, buddhisme lebih mengutamakan praktik, seperti bagaimana cara menuntun hidup kita kearah yang benar? Dan

bagaimana cara mengubah pikiran kita dan bagaimana cara menjaga kehidupan kita agar hidup kita penuh kedamaian dan bebas dari penyakit setiap harinya?. Dalam kata lain, Buddhisme selalu mengutamakan pengertian daripada menggunakan dogma-dogma yang hanya membuat manusia itu percaya dengan membuta. Dalam kenyataannya, kita tidak memahami Buddhisme yang merupakan sebuah Ajaran. Jadi disini demi memahami Buddhisme ada tiga cara yaitu ; kita dapat

mengembangkannya dengan cara berpikir (Cintamayapanna) –dengan cara mendalami dan belajar (Sutamayapanna) serta dengan cara melaksanakan meditasi atau mempraktekkannya (Bhavanamayapanna). Sebagai makluk hidup kita semua mempunyai potensi untuk menjadi bahagia dan penuh cinta kasih, dan juga punya potensi untuk menjadi menderita dan susah bagi orang lain. Potensi-potensi tersebut ada didalam diri kita setiap hari. Setelah kita mempelajari ajaran Buddha , maka diantara kita yang merasakan kebesaran dan kebenaran akan ajaran Buddha, banyak yang cukup puas dengan mengagumi ajaran itu. Penghargaan pada Buddha atau ajaran-ajaran-Nya semata-mata belum menjadikan seorang menjadi Buddhis. Dinegara-negara Buddhis tradisional, penduduk kevihara-vihara, mengikuti acara ritual dan melaksanakan dhamma sebagai kebudayaan mereka, tetapi tentunya seseorang tidak langsung menjadi buddhis hanya karena mereka lahir dinegara buddhis. Karena buddhisme bukan suatu agama turun temurun, bukan agama tradisi, bukan agama Negara, bukan agama orang tua tetapi Buddhisme adalah suatu agama perbuatan. Barang siapa yang bisa mempelajari Ajaran Buddha serta mempraktikkannya sesuai dengan Ajaran Buddha maka dia adalah seorang Buddhis. Menjadi seorang buddhis bukan tergantung dari semua yang diatas tetapi tergantung dari perbuatannya. Sebagian orang juga menelusuri lebih jauh, mempelajari Dhamma dan berusaha sekuat mungkin untuk mempraktikkannya, tapi tentunya hanya sepanjang hal tersebut tidak berarti pengorbanan. Sebenarnya melaksanakan Dhamma hanya, bila hal itu mudah atau bila menyenangkan, belum menjadikan seorang menjadi buddhis. Lalu, bagaimana seorang Buddhis itu? Seorang Buddhis adalah seorang yang telah berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha.

Pada suatu ketika ada seorang bertanya kepada Buddha; “ Bagaimana Yang Mulia, seseorang yang disebut umat awam?”
Buddha menjawab; “bila seorang telah berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha, maka mereka telah menjadi murid awam”.

Perlindungan (sarana) adalah tempat dimana seseorang menghindar dari bahaya- jadi itu merupakan tempat yang aman, pernaungan yang aman. Seorang buddhis melihat samsara, lingkaran kelahiran dan kematian, sebagai bahaya dan penderitaan, dan yang paling penting seorang umat harus bisa melihat Buddha, Dhamma dan Sangha sebagai suatu tawaran kebahagiaan dan keamanan. Dengan sendirinya dorongan untuk menjalani Jalan hendaknya lebih dari sekadar keinginan terbebas dari roda samsara. Hendaknya diikutkan, sesuatu yang lebih kuat dan yakin untuk dapat merealisasi Nibbana. Keagungan akan Buddha, Dhamma dan Sangha bila dimengerti maknanya, akan sangat menarik perhatian kita kepada mereka. Jadi, Buddha, Dhamma dan Sangha disebut sebagai tempat perlindungan, sebab kepadanya kita berlindung dari roda samsara; tetapi dapat dengan tepat juga disebut Tiga Permata atau Mustika (Tiratana) sebab sebagai permata yang berharga, keTiganya membangkitkan rasa penghargaan dan kekaguman kita.

Buddha adalah perlindungan dalam arti Beliau mewakili potensi pencapaian kesempurnaan manusia yang paling hakiki. Ucapan dan tindakanNya, kasih sayangNya pada yang menderita, kesabaranNya pada mereka yang tercampak, kebajikanNya yang tak ternoda dan kecermatanNya; tetap sebagai contoh yang sempurna bagi kita untuk dijadikan dasar kehidupan kita. Bila kita berniat meneladani Buddha pada setiap aspek kehidupan kita, maka kita sebenarnya telah siap berlindung pada Buddha, dengan demikian kita telah memberikan arah dan makna baru bagi kehidupan kita. Karena Buddha mempunyai sebuah tujuan untuk mengajarkan sebuah kebenaran kepada seluruh makluk dialam semesta. Dan Beliau juga mempunyai beberapa cara untuk mengajar apa yang telah beliau dapatkan. Ada tiga cara beliau mengajar kepada mereka yang tertarik pada Dhamma, ketiga cara itu adalah;

1. Buddha mengajar agar mereka yang mendengar akan dapat mengerti dan mengetahui secara mendalam apa yang pantas untuk dimengerti dan dipahami.
2. Buddha mengajar dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan, sehingga mereka yang mendengar dapat merenungkan dan bisa melihat dhamma dengan benar
3. Buddha mengajar dengan suatu cara yang luar biasa, sehingga mereka yang mengikuti dan mempraktekkan Jalan (Dhamma) itu dapat memperoleh manfaat sesuai dengan praktik mereka.

Seperti seorang pengusaha yang ingin mendapatkan kemajuan dalam usahanya, dia harus membuat dan menerapkan suatu prinsip lebih dahulu, sebelum dia melakukan suatu pekerjaan. Prinsip-prinsip inilah yang menentukan apakah usaha itu akan memperoleh kemajuan dan perkembangan atau tidak. Sebelumnya dia harus mengerti dan mempelajari sebaik-baiknya hal-hal yang berhubungan dengan usaha yang dijalankan tersebut. Dia harus menyelidiki kelemahan-kelemahan yang ada dan berusaha dengan sekeras mungkin untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut bila telah diketahui penyebabnya. Disamping itu dia harus membuat suatu perencanaan yang akan dijalankan dalam jangka waktu tertentu. Dia hendaknya juga berusaha sebisa mungkin untuk menjalankan pekerjaannya tersebut sesuai dengan rencana-rencana yang telah dibuat. Maka rintangan-rintangan yang selalu menghalangi akan dapat diatasi sedini mungkin. Dengan demikian tujuan utama perusahaan tersebut akan mudah dicapai.

Demikian pula ketika seorang Upali yang ingin menjadi pengikut Buddha, dia adalah seorang penganut Agama lain dan ia pergi menemui Buddha dengan tujuan untuk berdebat denganNya dan berusaha untuk mempengaruhi Beliau. Tetapi setelah berbicara dengan Beliau, ia sangat terkesan dan tertarik akan penjelasan Buddha sehingga ia memutuskan untuk menjadi pengikut Buddha, tetapi Buddha berkata kepada dia ;

“Upali, sebelum anda masuk kedalamnya, buatlah suatu penyelidikan yang tepat terlebih dahulu. Selidikilah dan kajilah sebelum anda melakukannya atau menyakininya. Penyelidikan adalah sangat baik bagi orang-orang yang ternama seperti anda”.

Lalu Upali berlutut dihadapan Buddha dengan berkata ;
“sekarang saya merasa senang dan puas bahkan lebih daripada itu, ketika Yang Mulia berkata kepada saya :
“buatlah suatu penyelidikan terlebih dahulu”. Karena jika diagama-agama yang lain setelah mengikat saya sebagai pengikutnya mereka akan mengarak saya keliling kota dan mempublikasikan saya dimana-mana sambil mengatakan ;
“Upali telah bergabung dengan agama kami- Upali telah bergabung dengan agama kami”. Tetapi Yang Mulia berkata kepada saya: “ buatlah suatu penyelidikan terlebih dahulu. Penyelidikan adalah sangat baik bagi orang-orang ternama seperti anda”.

Dalam buddhisme, suatu pengertian adalah suatu hal yang paling penting dan pengertian membutuhkan waktu. Jadi jangan secara impulsif terburu-buru masuk agama Buddha. Selidikilah, sabarlah, bertanyalah dan pertimbangkanlah dengan seksama, dan kemudian baru buat suatu keputusan. Justru dengan semua jawaban yang Buddha berikan kepada upali menunjukkan bahwa Buddha tidak tertarik mempunyai pengikut dalam jumlah yang banyak. Tetapi Buddha hanya menginginkan agar orang-orang yang mengikuti AjaranNya sebagai akibat dari penyelidikan yang hati-hati dan sebuah pertimbangan fakta-fakta yang sangat relevan dan logistik. Bila kita memang bercita-cita kuat untuk meneladani Buddha pada setiap aspek kehidupan kita, maka kita sebenarnya telah siap berlindung pada Buddha, seorang buddhis mencari perlindungan pada Buddha karena Beliaulah yang telah menemukan Jalan Kebebasan. Dan seorang buddhis tidak mencari perlindungan pada Buddha dengan harapan bahwa ia akan dapat diselamatkan melalui kesucian Beliau. Buddha tidak memberikan jaminan demikian. Karena seorang Buddha tidak dapat membersihkan kekotoran-kekotoran batin (Kilesa) orang lain. Sebagai seorang guru, Buddha mengajar kita, tetapi kita sendirilah yang bertanggung jawab atas kesucian diri kita. Dengan demikian kita telah dapat memberi arah dan makna baru bagi kehidupan kita.

Dhamma adalah perlindungan sebab memberi kita keterangan atau penjelasan yang rinci mengenai setiap langkah dari jalan dan tentang tujuan yang kita cita-citakan.
Istilah Sangha berarti perhimpunan spiritual atau persahabatan spiritual, dan dalam pengertian teknis mengacu kepada mereka semua yang telah mencapai tingkat kesucian yang tertinggi dalam Jalan, yakni para pemenang arus (Sotapanna), yang kembali sekali lagi (Sakadagami), yang tidak kembali lagi (Anagami), dan Arahat. Karena mereka jauh lebih maju spiritualnya dibanding dengan kita, maka mereka dapat sangat membantu kita dalam menunjukkan hal-hal yang belum kita lihat atau dengan menjelaskan hal-hal yang tidak dapat kita pahami. Disamping itu juga, kehadirannya mengisi kita dengan tenaga dan tekad sebab pencapaian mereka memberi bukti bagi kita bahwa pelaksanaan itu berhasil, bahwa Jalan itu benar menuntun kejalan yang benar atau menuntun kekesempurnaan. Tetapi, dalam pengertian umum, sangha juga berarti mereka yang melaksanakan Dhamma dengan tulus dan bertanggung jawab, apakah dia seorang bhikkhu, bhikkhuni atau penganut awam sekalipun. Banyak persoalan yang kita hadapi, yang tidak mesti memerlukan orang yang Tercerahi untuk memecahkannya. Kadang-kadang kita cukup memerlukan bantuan sahabat sesame Buddhis yang sedikit bijaksana dan lebih berwawasan dari pada kita sendiri. Sahabat sesama Buddhis dapat menawarkan persahabatan, ilham dan petunjuk dan pada waktu yang sama akan memberi kita kesempatan untuk mengembangkan diri kita dengan berbagi dan membantu mereka. Bila kita telah siap untuk berperan serta dalam persahabatan spiritual yang positif maka secara otomatis kita juga telah berlindung pada Sangha.
kesimpulan

Dengan demikian perlindungan seorang Buddhis pada Tiga Perlindungan memberikan suatu kekuatan, kepercayaan dan kepastian yang tidak bisa disamakan dengan perlindungan-perlindungan yang lainnya. Jadi menjadi seorang Buddhis sepantasnyalah harus berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha. Maka ia akan mengerti akan kebijaksanaan, mengerti akan Empat Kebenaran Mulia serta Jalan untuk mengatasinya. Inilah perlindungan yang aman, perlindungan yang terbaik bagi seorang yang disebut Buddhis. Dengan berlindung disini, seseorang akan terbebas dari semua penderitaan.
Sadhu………

Tidak ada komentar:

Posting Komentar